Tuesday, August 21, 2012

Catatan Malam Kemerdekaan dan Menjelang Hari Kemenangan


“Jum’at Besok HARLAH RI,, Ahad Lusa Idul Fitri.”

Kembali seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya sebagian kecil rakyat Indonesia yang merasakan Gelora 17 Agustus. Ini memang dikarenakan Bulan Ramadhan membius mayoritas kita, termasuk Saya, kamu, Dia, mereka, kalian dan kita.
Saya tidak ingin menulis artikel tentang nasib bangsa ini, karena sudah banyak yang mengulasnya. Tidak juga tulisan ini untuk meminta ma’af lahir bathin sebagai tradisi Idul Fitri. Tapi biarkanlah saya berceloteh sejenak, menggunjing Indonesia yang semoga ini terhitung sebagai amal ibadah di sisi-Nya.

“Apa kabarmu Indonesia ?
Aku dengar usiamu kini telah 67 tahun, cukup renta dan tak menarik lagi.
Sebenarnya kamu itu siapa sih Indonesia ? Ibumu namanya Pertiwi atau kamu sendiri yang bernama Pertiwi ?? Jadi namamu Indonesia atau Pertiwi ??” (Ahh ... sudahlah,, Aku tidak butuh jawabanmu Indonesia. Mau Pertiwi kek, mau Pertowo kek,, aku tidak peduli. Yang jelas kamu dilahirkan untuk 
memakmurkan dan mensejahterakan orang-orang yang hidup di perutmu....)

Baaaiiiikkk,, ada hal yang harus kami sampaikan kepadamu wahai Indonesia. Bahwa disini, di daerahmu yang bernama Lombok Timur engkau kurang dikenal karena jarang diperhatikan. Disini banyak orang yang bingung mau kerja apa agar dapat hidup layak, pemuda yang katanya Penerus tahta pun tak begitu diperhitungkan. Kamu tau kenapa Indonesia ?? Itu karena pemuda-pemuda Lombok Timur banyak yang berpendidikan rendah, jangankan berbicara manfa’at untuk bangsa dan negara,, bagi dirinya saja mereka kebingungan.. Mungkin tidak semua di Lombok Timur, tapi di tempat tinggalku itulah yang terjadi. Mereka harus ke Malaysia dulu untuk berani membangun rumah tangga, mereka harus ke kalimantan dulu agar bisa membuat rumah. Hidup di kampung halaman membuatnya bingung sakit kepala harus mengerjakan apa, terkadang bertani pun bisa-bisa membuat sakit jiwa... Bukannya makan nikmat atas hasil tani, tapi sering makan hati karena buntung membuat gali lubang tutup lubang.

Itu derita penghunimu Indonesia, jangan biarkan mereka stres lagi tidak normal sampai-sampai engkau diajak bicara Indonesia. Sampai kapan semua ini begini ?? Sampai kapan banyak orang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi ?? Sampai kapan penghunimu harus ke Malaysia agar hidup lebih baik ?? Tidak bisakah engkau mensejahterakan mereka disini, di kampung halamannya, di daerahmu Indonesia ?? Haruskah kami menunggu ribuan tahun lagi agar kami tidak perlu berkelana kerja mencari Garu naik gunung turun gunung untuk membuat rumah ?? Sampai kapan Indonesia ?? Belum cukupkah usiamu yang kini 67 tahun ??? Atau harus menunggu orang luar yang menghunimu ????

Apa yang terjadi sebenarnya,, aku telah memilih untuk berbuat semampuku. Tapi apa yang kulakukan tidak berarti apa-apa Indonesia ?? Aku belum bisa,, Aku bukan siapa-siapa disini ??? Tapi janjiku adalah “Tak kan pernah Putus Asa,, semua angan dambaan pasti akan terwujud ketika Aku Engkau Dia kami Mereka kalian dan kita bergerak dalam satu tujuan yaitu kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.:”

Besok HUT-RI, Ahad Idul Fitri : Mari Berdo’a,,,,  “Matilah para keparat sejahteralah rakyat ... !!”

“SELAMAT HARLAH UNTUK INDONESIA,, MOHON MA’AF LAHIR DAN BATHIN ......!!!”
 (Ditulis pada tanggal 16  Agustus 2012, malam Kemerdekaan dan 2-h Lebaran