Sunday, July 1, 2018

Enyahlah Sejenak...!!

Sehari saja, aku ingin isi kepalaku tanpamu. Sehari saja tidak menyebut namamu, sehari saja berlepas darimu.

Sungguh akupun menyadarinya saat ini. Dunia tak akan pernah mampu mengalihkan tentangmu.

Karena setiap langkah kaki adalah senyummu. Keindahan yang terbentang, masih di bawah keindahanmu.

Begitupun malam ini. Dingin yang menyerang hebat, dihangatkan bayangmu yang selalu dekat. Mengencani setiap kenangan dan petuah dibalik tawa itu. 

Thursday, October 15, 2015

Dua Minggu, Portalite Terjual 101 Kilo Liter



 
 AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK

Portalite mulai dipasarkan di Pulau Lombok pada tanggal 18 September lalu yang dilaunching di SPBU Jalan Gajah Mada, Kelurahan Pagesangan, Kota Mataram.


MATARAM – Sejak mulai dipasarkan 18 September lalu di Pulau Lombok, penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Portalite telah mencapai 101 kilo liter (KL) sampai Rabu kemarin (30/9). Pencapaian ini dinilai sangat memuaskan sesuai dengan target yang telah ditentukan.
 
Assistan Manager External Relation Pertamina Marketing Operation Region V, Heppy Wulansari mengatakan rata-rata Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Lombok mampu menjual 1 sampai 2,5 kilo liter dalam sehari. “Ini artinya respon masyarakat sangat bagus di 6 SPBU yang ada,” ujarnya, kemarin.

Melihat tingginya animo masyarakat untuk menggunakan Portalite, Pertamina Marketing Operation Region V mulai menambah jumlah SPBU yang menyediakan produk Pertalite dari 6 SPBU mejadi 8 SPBU. Penambahan 2 SPBU baru yaitu SPBU di jalan Majapahit, Kota Mataram dan jalan Aik Darek, Kabupaten Lombok Tengah.

Menurut Heppy Wulansari, penambahan lokasi penjualan Portalite akan dilakukan Pertamina secara bertahap setiap minggunya. “Kita targetkan sampai dengan akhir 2015 sudah 50 persen SPBU di Lombok telah menyediakan Portalite,” terangnya.
 
Di Pulau Lombok sendiri terdapat 44 SPBU yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota. Dengan adanya penambahan dua SPBU maka saat ini masyarakat bisa membeli Portalite lebih mudah. Sedangkan untuk di Kabupaten Lombok Utara diharap bisa bersabar.

Dikatakan, pihaknya berencana akan mulai melakukan penjualan pertengahan Oktober ini. Mengingat Pertamina lebih mendahulukan SPBU-SPBU yang ramai dan memiliki angka penjualan tinggi. “Lombok Utara rencana Oktober, penambahan memang bertahap,” jawab Heppy.

Selain adanya penambahan dua SPBU baru, Heppy juga mengklarifikasi lokasi-lokasi SPBU yang menjual Portalite. Pasalnya, dalam peluncuran tanggal 18 September lalu disebutkan terdapat dua SPBU yang menjual Portalite di Lombok Timur padahal realitanya hanya ada satu.

Begitu juga dengan di Kabupaten Lombok Barat, jika sebelumnya disampaikan hanya ada dua SPBU saja namun yang benar sudah ada tiga SPBU menjual Portalite disana. “Mohon ma’af ada kesalahan info mas, kami juga taunya tadi saat mencocokkan data,” katanya via SMS.

Dengan begitu, saat ini masyarakat Lombok Barat yang ingin menggunakan Portalite bisa didapatkan di SPBU Jalan Raya Lembar, SPBU Jalan Raya Bengkel – Cakranegara dan SPBU di Desa Montong Are , Kecamatan Kediri.

Di Lombok Timur saat ini Portalite hanya disiapkan di SPBU Kelurahan Sekarteja, Kecamatan Selong. Sementara untuk di Kota Mataram di SPBU jalan Majapahit -  Ampenan dan jalan Gajah Mada, Kelrahan Pagesangan, Kecamatan Mataram.

Untuk di Kabupaten Lombok Tengah yang awalnya hanya SPBU di Jalan Raya By Pass KM 14, BIL Desa Labulia, mulai saat ini ditambah juga di jalan Aik Darek. “Setiap Minggu kita akan tambah lokasi SPBU yang menyediakan Portalite, animo masyarakat NTB cukup tinggi beralih dari premium ke Portalite,” tutup Heppy.

Pertalite merupakan salah satu produk yang diharapkan bisa menjadi pilihan masyarakat selain premium. Kelebihan produk ini karena memiliki level Research Octane Number (RON) sebesar 90, sedangkan premium hanya memiliki RON 88. Lebih tingginya RON yang dimiliki pertalite diyakini bisa membuat proses pembakaran pada mesin kendaraan jauh lebih baik. (zwr)

Wednesday, September 30, 2015

Banyak Perjalanan Dinas Dianggap Piktif



LOTIM – Bupati Lombok Timur H. Ali Bin Dahlan menganggap jajarannya tidak bekerja dengan baik. Ia juga mengungkapkan selama ini banyak perjalanan dinas piktif untuk dijadikan ajang jalan-jalan.
“Perjalanan dinas banyak ngarang-ngarang, coret saja yang tidak penting. Masa dinas parawisata mau ke taman mini sja biayanya 250 juta ? Yang gak penting gak usah dianggarkan,” geram Bupati kontroversial ini dalam sebuah kesempatan.
Dikatakan, dana yang banyak tersebut lebih baik digunakan untuk membantu buat rumah orang miskin. Setiap perjalanan yang tidak penting sama artinya mengambil hak rakyat yang seharusnya didapatkan.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga tidak luput dari semprotannya. Ali BD heran dengan orang di Prusda tersebut yang sering ingin berangkat ke luar daerah untuk pelatihan ataupun study banding.
“Saya setiap hari juga dapat undangan. Perjalanan dinas saya banyak, tapi saya tidak mau karena yang kita gunakan itu uang daerah,” Jelasnya.
Menurut Ali BD, perusahaan daerah (Prusda) selama ini juga mengecewakan. Aturan yang dibuat dikatakan hanya untuk kepentingan pribadi, jauh dari kepentingan daerah. “Ini perusahaan daerah, bukan perusahaan milik pribadi. Yang harus untung itu daerah bukan pimpinannya,” tegas Bupati.
Ia juga berpesan kepada seluruh jajarannya agar tidak menganggap diri sebagai bangsawan. “Jangan hanya gaya-gaya di dalam kantor saja, turun keliling lihat situasi !” pintanya.

Ali BD Klaim Berwenang Izinkan PT. TWBI Beroperasi




Bupati Lotim, Ali BD

SELONG – Bupati Kabupaten Lombok Timur H. Ali Bin Dahlan mengatakan dirinya berwenang memberikan izin kepada PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) yang akan melakukan pengerukan pasir laut di selat alas. Hal itu diungkapkannya pada Radar Lombok, Rabu (25/3) kemarin.

Dijelaskan, sampai saat ini pemerintah kabupaten masih memiliki wewenang untuk memberikan izin kepada perusahaan. “Tulis ya, izin operasional itu kabupaten masih punya wewenang, bukan provinsi,” ungkapnya.
Dikatakan lebih lanjut, penolakan dari banyak pihak bukan membuatnya surut. “Rakyat Lombok Timur masih miskin dan lapar. Jangankan pasir, kalau ada orang yang mau beli angin maka angin juga akan saya jual,” ucap orang yang berciri khas kacamata hitam tersebut.

Ali BD menganggap rencana PT. TWBI bukanlah untuk mengeruk pasir, tapi melakukan penyedotan. Hal itu dianggapnya tidak akan merusak laut, apalagi mengakibatkan abrasi. Ia meminta orang yang berpikir bisa menimbulkan abrasi agar menggunakan ilmu dan data secara ilmiah.

Ditanya soal penolakan Gubernur NTB Zainul Majdi terhadap rencana PT. TWBI, Bupati nyentrik tersebut menganggap hal yang biasa. “Biarkan tugas provinsi yang menolak dan kita di kabupaten tidak menolak. Tapi mana surat penolakan Gubernur itu ? Mana ? Tidak ada penolakan dari Gubernur,” tegasnya.

Sementara itu masyarakat Tanjung Luar yang akan terkena dampak dari pengerukan pasir laut telah menggelar unjukrasa pada Selasa (24/3). Bahkan mereka menyatakan siap mati untuk mempertahankan kelestarian laut demi anak cucu kedepan.

Menanggapi sikap keras masyarakat tersebut, Ali BD menganggap masyarakat tidak mengerti. “Yang punya laut itu siapa ? Pemerintah yang punya bukan mereka. Kita mau dapatkan uang sebanyak-banyaknya ya untuk sejahterakan rakyat,” katanya.

Seperti yang diketahui PT. TWBI akan melakukan kegiatan penambangan pasir laut di Lombok Timur untuk diangkut ke provinsi Bali. Material pasir laut tersebut digunakan untuk reklamasi teluk Benoa. Namun banyak pihak memberikan penolakan, mulai dari masyarakat setempat, anggota legislative sampai Gubernur.

Masyarakat Merasa Terbantu Hutan Joben




INDAH : Baru memasuki gerbang pemandian Joben, akan disuguhkan pemandangan indah nan cantik.

Joben pra tahun 2003 hanya tempat pemandian biasa, namun kini menjadi jantung bagi daerah sekitarnya. Semak belukar telah tergantikan pohon-pohon menjulang tinggi nan meneduhkan. Tempat menginap, tracking dan kebutuhan berlibur lainnya lengkap tersedia. Hal yang wajar kiranya menjadi rebutan pemerintah Kabupaten Lombok Timur dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

AZWAR ZAMHURI - LOTIM

Obyek wisata Joben, desa Pesanggerahan Kecamatan Montong Gading telah dikenal sejak dulu. Tempat pemandian tersebut semakin mampu menjaga eksistensinya dengan inovasi kreatif yang dipercantik.
Udara dingin akan mulai terasa kala berada di silayah obyek wisata tersebut. Memasuki gerbang area wisata akan lansung disambut pemandangan indah dari tata kelolanya. Ditambah lagi banyaknya mata air yang ada semakin menambah nilai eksotis.
Keindahan yang ada di area Resort Joben mulai dirintis tahun 2003 lalu oleh Wasmad, seorang pensionan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Semak belukar yang disulap dengan bibit-bibit pohon yang setelah beberapa tahun kemudian menjadi sangat bermanfaat bagi kecantikan Joben maupun manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pohon rimbun yang ada di Joben tidak hanya berfungsi sebagai penyempurna hijaunya obyek wisata. Lebih dari itu menjadi hulu penampungan air di wilayah tersebut. “Pandandure itu tidak akan berguna tanpa Joben karena disinilah sumber airnya,” ucap Kepala Resort Joben, Wasmad.
Penanaman pohon yang dilakukannya sejak 2003 silam memiliki dampak positif yang begitu besar. Mata air bertambah menjadi 24 dari yang semula hanya sepuluh.
Jenis pohon yang telah ditanam beraneka ragam, bahkan direncanakan semua jenis pohon aka nada di Resort Joben. “Dari dulu kita sudah pembibitan. Jadi kalau di hutan satu jenis pohon tidak ada, disini masih ada,” ujar Wasmad.
Menariknya lagi lanjut Wasmad, pembibitan yang dilakukannya bernilai ekonomis. “Rajumas itu seribu lima ratus per biji, kalau kita jual ribuan biji kita dapat jutaan,” ungkapnya.
Tidak hanya dari sisi ekonomis, dengan banyaknya pohon yang ada di Joben turut memudahkan masyarakat yang beternak sapi. Hal itu diakui oleh Sahwan, seorang warga peternak sapi. “Kami merasa sangat terbantu setelah adanya pemanfaatan hutan Joben, beternak sapi tidak jadi sulit kita cari pakan,” ceritanya.
Sahwan mengakui awalnya tidak senang dengan para petugas Resort Joben. Namun setelah menyaksikan dampak positif yang dihasilkan ia kini lebih sering duduk bareng bersama petugas. “Kalau sekarang serasa keluarga sendiri,” celetuknya.
Menurut Wasmad, kendala yang dihadapinya selama ini pola piker masyarakat sekitar. Namun secara perlahan dirinya akan berusaha mendorong kea rah yang lebih baik. Mulai dengan pembinaan-pembinan maupun memberikan bantuan skillnya ke desa-desa sekitar.