Dari Merangkak
hingga Berdiri Tegak
Terlahir dari
keluarga tidak berada menempa mental seorang Muhammad Khairul Ihwan untuk kuat
dalam situasi dan kondisi apapun. Keadaan itu memaksanya agar bisa berdiri di
kaki sendiri. Alhasil ia berhasil menjadi sosok guru hebat dan peneliti untuk
mengabdi pada masyarakat.
AZWAR ZAMHURI – LOTIM
Kisah hidup Muhammad
Khairul Ihwan, S.Pd, MT begitu dramatis dan penuh kejutan. Ia merupakan salah
satu Putra Sasak asli yang bisa dijadikan teladan oleh seluruh kalangan.
Pertemuan beberapa kali dengan Radar Lombok semakin terlihat nyata keistimewaannya.
Sambutan hangat
tetap ditampilkan setiap ada tamu yang berkunjung, kesibukan sebagai guru dan
peneliti serta pebisnis tidak lantas membuatnya hidup individualis. Hal itu
diperkuat kala pengalam pertama berjumpa dengannya.
Suatu pagi di hari
Minggu, orang biasanya memanfaatkan ntuk berkumpul bersama keluarga. Namun di
dalam tembok keliling bernama Nolen orang-orang terlihat ramai. Mereka ternyata
para purna Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bisa hidup mandiri tanpa merantau
lagi atas jasa Khairul Ikhwan. Sosok pemberdaya masyarakat makin kental
dialamatkan kepadanya. Setelah ada waktu luang, ia pun menuturkan perjalanan
hidupnya hingga bisa dikenal seperti saat ini.
Khairul Ikhwan ternyata lahir
dari keluarga sederhana pada 31 Desember 1978 silam. Kedua orang tuanya bukanlah
orang yang berpendidikan, sang ayah bekerja sebagai penjahit biasa karena Sekolah
Dasar (SD) pun tidak sampai tamat.
Keadaan ekonomi
keluarga yang memprihatinkan membuat orangtuanya transimigrasi ke Kalimantan
Timur. Saat itu Iwan, panggilan akrab Muhammad Khairul Ihwan baru duduk di
kelas 5 SD. Di tempat baru itulah ia akrab dengan mesin-mesin karena merupakan
lokasi tambang batu bara. Itulah yang membuatnya bercita-cita menjadi mekanik.
Suami dari
Wahyuningsih ini memang mendapat berkah dengan otak yang pintar sejak kecil. Di
sekolah Dasar (SD) ia lulusan terbaik meskipun anak rantau. Ihwan kecil pulang
kampung dan pada tahun 1992 melanjutkan pendidikan ke MTs NW Pringgajurang. “Mungkin
bakat saya memang tidak cocok di MTs makanya gak menonjol prestasi saya waktu
itu,” kisahnya.
Dengan dukungan
dari orangtua yang tidak mampu namun memiliki kegigihan untuk sekolahkan sang
anak, tahun 1994 Ihwan masuk STM Mataram (Sekarang SMKN 3 Mataram – red))
dengan mengambil jurusan Teknik Permesinan. “Bisa melanjutkan sekolah ke STM
aja bersyukur banget saya, rasanya cita-cita menjadi mekanik terbuka lebar,”
kenangnya pada Radar Lombok.
Biaya pendidikan di
STM ternyata sangat berat bagi oragtuanya, itulah yang membuat orangtua Ihwan
merantau ke Dompu mencarikan biaya sekolahnya. “Waktu itu saya anggap ujiang
sangat berat, tidak hanya jauh dari orangtua tetapi juga kiriman uang saku
sering telat dan terkadang tidak ada,” ucapnya.
Jangankan untuk
membeli jajan dan buku-buku tambahan, mengganti celana sekolah saja Ihwan tidak
mampu. “Dari kelas satu sampai kelas tiga gak pernah saya beli celana sekolah
baru, makanya lucu dilihat karena udah nyampe di atas kaki celana,” ceritanya
sembari tertawa kecil.
Dia bersyukur di
tempat kosnya bertemu dengan 2 orang teman yang dari kondisi ekonomi sama
sehingga bisa saling memahami. Rasa lelah dan putus asa menggapai cita-cita
terkadang hinggap, namun di otak Ihwan ia harus berhasil dan membuat bangga
orangtua yang bekerja keras membiayainya sekolah. Itu dibuktikan dengan menjadi
lulusan terbaik SMKN 3 Mataram tahun 1997.
Atas prestasinya Ihwan
melanjutkan kuliah melalui jalur Pemilihan Bibit Unggul Daerah (PBUD) di IKIP
Jogjakarta (sekarang UNY - red). Namun masalah baru timbul lagi, keadaan
ekonomi orangtua tidak bisa menopang kebutuhan kuliah. “Pacaran aja saya gak
berani, karena gak ada uang takut tidak bisa traktir anak orang,” sebutnya.
Kondisi itu
memaksanya harus bisa mencari uang saku sendiri. Kekurangan uang menumbuhkan
jiwa berwira usaha. Bersama empat teman kostnya membuka rental komputer dan
pengetikan. “Tapi kami gak punya cukup uang untuk sewa kos, bersyukur banget
ada pemilik toko yang bersedia dibayar belakangan setelah usaha berjalan,”
kenang Ihwan.
Berbekal usaha
patungan keuangan Ihwan mampu menjadi penopang perkuliahannya hingga lulus
tahun 2001. Ia menjadi lulusan terbaik dari Jurusan Pendidikan Teknik Mesin
Universitas Negeri Jogjakarta (UNJ). Menjadi yang terbaik memudahkannya
diterima sebagai karyawan perusahaan konstruksi di Jakarta.
Setahun kemudian Ihwan pulang
kampung dan mengabdi sebagai guru honorer di SMKN 2 Kuripan, Lombok Barat. Tak
menunggu lama, setahun kemudian ia lulus test CPNS Daerah Kabupaten Lombok
Timur dan ditempatkan sebagai Guru di SMKN 1 Selong sampai saat ini.
Waktu terus
berjalan sampai akhirnya Ihwan mendapatan Beasiswa Unggulan Kemendiknas Tahun
2006 di Jurusan Teknik Mesin (Konsentrasi MST) UGM Yogyakarta. Dan Tahun 2008
lulus dengan predikat Cumlaude. Aktifitas sebagai guru dan peneliti membuatnya
mampu memberikan inovasi sehingga berhasil mengukir berbagai prestasi.
Awal 2010, di luar
aktivitasnya sebagai guru Ihwan membuka NOLEN GROUP dengan mendirikan sebuah
bengkel logam dan kontruksi yang berdiri diatas lahan 3000 m2. Melalui
perusahaan tersebut inovasi Ihwan terus maju dan berkembang. Karya yang
dihasilkan banyak diminati oleh masyarakat sehingga dibentuklah ONDAK JAYA
GROUP dengan tujuan bisnis yang bersumber dari optimalisasi hasil bumi dan
potensi yang terkandung di Desa Pringgajurang.
Hidup seorang Ihwan
dari orangtua tidak berpendidikan kini telah menjadi pria yang mapan. Tahun
2015 ini, perkawinannya dengan Wahyuningsih dikaruniai tiga anak. Asam garam
kehidupan yang telah dialami seorang Muhammad Khairul Ihwan, S.Pd, MT menjadi
kisah indah bagi Alifiya Chairani Salsabila (11), Raditya Fabian Abiyu (6) dan
si bungsu Rafa Achmad Sakhy (3). “Seseorang yang sangat berjasa juga dalam
hidup saya, dia sosok ibu rumah tangga hebat yang juga sebagai Penyuluh KB di
Lombok Timur. I Love You, istriku tercinta,” tutup Khairul Ihwan.


No comments:
Post a Comment