Wednesday, September 30, 2015

Pria Inspiratif Untuk Semua Kalangan



Dari Merangkak hingga Berdiri Tegak
Terlahir dari keluarga tidak berada menempa mental seorang Muhammad Khairul Ihwan untuk kuat dalam situasi dan kondisi apapun. Keadaan itu memaksanya agar bisa berdiri di kaki sendiri. Alhasil ia berhasil menjadi sosok guru hebat dan peneliti untuk mengabdi pada masyarakat.

AZWAR ZAMHURI – LOTIM
Kisah hidup Muhammad Khairul Ihwan, S.Pd, MT begitu dramatis dan penuh kejutan. Ia merupakan salah satu Putra Sasak asli yang bisa dijadikan teladan oleh seluruh kalangan. Pertemuan beberapa kali dengan Radar Lombok semakin terlihat nyata keistimewaannya.
Sambutan hangat tetap ditampilkan setiap ada tamu yang berkunjung, kesibukan sebagai guru dan peneliti serta pebisnis tidak lantas membuatnya hidup individualis. Hal itu diperkuat kala pengalam pertama berjumpa dengannya.
Suatu pagi di hari Minggu, orang biasanya memanfaatkan ntuk berkumpul bersama keluarga. Namun di dalam tembok keliling bernama Nolen orang-orang terlihat ramai. Mereka ternyata para purna Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bisa hidup mandiri tanpa merantau lagi atas jasa Khairul Ikhwan. Sosok pemberdaya masyarakat makin kental dialamatkan kepadanya. Setelah ada waktu luang, ia pun menuturkan perjalanan hidupnya hingga bisa dikenal seperti saat ini.
                Khairul Ikhwan ternyata lahir dari keluarga sederhana pada 31 Desember 1978 silam. Kedua orang tuanya bukanlah orang yang berpendidikan, sang ayah bekerja sebagai penjahit biasa karena Sekolah Dasar (SD) pun tidak sampai tamat.
Keadaan ekonomi keluarga yang memprihatinkan membuat orangtuanya transimigrasi ke Kalimantan Timur. Saat itu Iwan, panggilan akrab Muhammad Khairul Ihwan baru duduk di kelas 5 SD. Di tempat baru itulah ia akrab dengan mesin-mesin karena merupakan lokasi tambang batu bara. Itulah yang membuatnya bercita-cita menjadi mekanik.
Suami dari Wahyuningsih ini memang mendapat berkah dengan otak yang pintar sejak kecil. Di sekolah Dasar (SD) ia lulusan terbaik meskipun anak rantau. Ihwan kecil pulang kampung dan pada tahun 1992 melanjutkan pendidikan ke MTs NW Pringgajurang. “Mungkin bakat saya memang tidak cocok di MTs makanya gak menonjol prestasi saya waktu itu,” kisahnya.
Dengan dukungan dari orangtua yang tidak mampu namun memiliki kegigihan untuk sekolahkan sang anak, tahun 1994 Ihwan masuk STM Mataram (Sekarang SMKN 3 Mataram – red)) dengan mengambil jurusan Teknik Permesinan. “Bisa melanjutkan sekolah ke STM aja bersyukur banget saya, rasanya cita-cita menjadi mekanik terbuka lebar,” kenangnya pada Radar Lombok.
Biaya pendidikan di STM ternyata sangat berat bagi oragtuanya, itulah yang membuat orangtua Ihwan merantau ke Dompu mencarikan biaya sekolahnya. “Waktu itu saya anggap ujiang sangat berat, tidak hanya jauh dari orangtua tetapi juga kiriman uang saku sering telat dan terkadang tidak ada,” ucapnya.
Jangankan untuk membeli jajan dan buku-buku tambahan, mengganti celana sekolah saja Ihwan tidak mampu. “Dari kelas satu sampai kelas tiga gak pernah saya beli celana sekolah baru, makanya lucu dilihat karena udah nyampe di atas kaki celana,” ceritanya sembari tertawa kecil.
Dia bersyukur di tempat kosnya bertemu dengan 2 orang teman yang dari kondisi ekonomi sama sehingga bisa saling memahami. Rasa lelah dan putus asa menggapai cita-cita terkadang hinggap, namun di otak Ihwan ia harus berhasil dan membuat bangga orangtua yang bekerja keras membiayainya sekolah. Itu dibuktikan dengan menjadi lulusan terbaik SMKN 3 Mataram tahun 1997.
Atas prestasinya Ihwan melanjutkan kuliah melalui jalur Pemilihan Bibit Unggul Daerah (PBUD) di IKIP Jogjakarta (sekarang UNY - red). Namun masalah baru timbul lagi, keadaan ekonomi orangtua tidak bisa menopang kebutuhan kuliah. “Pacaran aja saya gak berani, karena gak ada uang takut tidak bisa traktir anak orang,” sebutnya.
Kondisi itu memaksanya harus bisa mencari uang saku sendiri. Kekurangan uang menumbuhkan jiwa berwira usaha. Bersama empat teman kostnya membuka rental komputer dan pengetikan. “Tapi kami gak punya cukup uang untuk sewa kos, bersyukur banget ada pemilik toko yang bersedia dibayar belakangan setelah usaha berjalan,” kenang Ihwan.
Berbekal usaha patungan keuangan Ihwan mampu menjadi penopang perkuliahannya hingga lulus tahun 2001. Ia menjadi lulusan terbaik dari Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Jogjakarta (UNJ). Menjadi yang terbaik memudahkannya diterima sebagai karyawan perusahaan konstruksi di Jakarta.
                Setahun kemudian Ihwan pulang kampung dan mengabdi sebagai guru honorer di SMKN 2 Kuripan, Lombok Barat. Tak menunggu lama, setahun kemudian ia lulus test CPNS Daerah Kabupaten Lombok Timur dan ditempatkan sebagai Guru di SMKN 1 Selong sampai saat ini.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya Ihwan mendapatan Beasiswa Unggulan Kemendiknas Tahun 2006 di Jurusan Teknik Mesin (Konsentrasi MST) UGM Yogyakarta. Dan Tahun 2008 lulus dengan predikat Cumlaude. Aktifitas sebagai guru dan peneliti membuatnya mampu memberikan inovasi sehingga berhasil mengukir berbagai prestasi.
Awal 2010, di luar aktivitasnya sebagai guru Ihwan membuka NOLEN GROUP dengan mendirikan sebuah bengkel logam dan kontruksi yang berdiri diatas lahan 3000 m2. Melalui perusahaan tersebut inovasi Ihwan terus maju dan berkembang. Karya yang dihasilkan banyak diminati oleh masyarakat sehingga dibentuklah ONDAK JAYA GROUP dengan tujuan bisnis yang bersumber dari optimalisasi hasil bumi dan potensi yang terkandung di Desa Pringgajurang.
Hidup seorang Ihwan dari orangtua tidak berpendidikan kini telah menjadi pria yang mapan. Tahun 2015 ini, perkawinannya dengan Wahyuningsih dikaruniai tiga anak. Asam garam kehidupan yang telah dialami seorang Muhammad Khairul Ihwan, S.Pd, MT menjadi kisah indah bagi Alifiya Chairani Salsabila (11), Raditya Fabian Abiyu (6) dan si bungsu Rafa Achmad Sakhy (3). “Seseorang yang sangat berjasa juga dalam hidup saya, dia sosok ibu rumah tangga hebat yang juga sebagai Penyuluh KB di Lombok Timur. I Love You, istriku tercinta,” tutup Khairul Ihwan.

No comments:

Post a Comment