SELONG – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)
Kabupaten Lombok Timur, Lalu Supratna mengatakan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) sangat sulit naik peringkat. Pasalnya banyak hal yang harus dibenahi jika
menginginkan IPM beranjak naik.
“Kalau IPM itu kan ukurannya banyak, dari
kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Tidak mudah itu, sulit sekali,” jelasnya.
Menurut data terakhir yang dimiliki BPS Lotim,
IPM Gumi Patuh Karya ini tetap bercokol diurutan ketujuh (7) dari sepuluh
kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTB).
Sementara untuk data kemiskinan yang ada,
tahun 2013 tercatat 19,16 persen penduduk Lombok Timur tergolong miskin. Tahun
sebelumnya, sebanyak 20,08 persen berada di bawah garis kemiskinan.
Ditanya kemajuan IPM semasa kepemimpinan Ali
Bin Dahlan, Supratna mengaku belum ada data yang bisa dipublikasikan. “Kalau
untuk yang tahun 2014 mungkin bulan Agustus baru kita tau hasilnya seperti
apa,” ucapnya.
Selama ini yang terus didengungkan adalah
kecepatan peningkatan indeks, Lombok Timur katanya peringkat dua setelah
Mataram. Namun hal tersebut bukan berarti dengan mudah bisa menaikkan IPM itu
sendiri.
Dari data yang berhasil dihimpun BPS, tingkat
pengangguran yang ada di Lombok Timur kurang dari 20 persen. Tingkat
partisifasi orang yang aktif bekerja sebesar 80,39 persen. Lebih dari 50 persen
masyarakat bekerja di sektor informasl seperti pertanian.
Dalam waktu dekat, BPS sendiri akan melakukan
Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) yang nantinya melibatkan kepala dusun
(Kadus) maupun ketua rumah tangga (RT).
Selain itu tahun ini juga direncanakan menggelar
Survei Penduduk Antar Waktu (SUPAS). Hal ini dianggapnya sangat penting
mengingat banyak perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Kegiatan tersebut
sekaligus untuk persiapan sensus ekonomi 2016. Semua itu dimaksudkan guna
melakukan update data seperti adanya perubahan peta, jumlah KK dan lain-lain.
No comments:
Post a Comment