Wednesday, September 30, 2015

Desa Lendang Nangka, Dulu dan Kini




BERTAHAN: Satu-satunya Home Stay yang masih bertahan sampai saat ini di desa Lendang Nangka, kecamatan Masbagik.
 


Pemandangan lalu-lalang para wisatawan di sore hari tidak lagi kita temukan di desa Lendang Nangka. Banyak home stay (rumah penginapan) telah tutup karena memang jarang pengunjung yang datang.  Home Stay H. Radiah satu-satunya yang sampai kini masih sanggup bertahan.

AZWAR ZAMHURI – LOTIM

Melintasi sepanjang jalan desa Lendang Nangka kecamatan Masbagik, tak jauh berbeda dengan situasi desa lainnya. Alam yang indah, hasil kerajinan masyarakat dan tradisi unik yang ada seperti ditenggelamkan oleh kemajuan zaman.
Masa keemasan parawisata desa Lendang Nangka seolah terkikis di tengah kesibukan masyarakat setempat. Desa yang dulunya sebagai tujuan wisata dalam negeri maupun mancanegara beberapa tahun terakhir mulai terlupakan.
Beberapa obyek wisata seperti Cagar Budaya (Gedeng – red) tidak populer lagi. Ketenaran mata air Tojang kehilangan kesaktian menarik perhatian wisatawan. Kerajinan perak, lidi, mebel dan pandai besi pun juga tidak bisa diandalkan.
Kondisi ini jauh berbeda dengan dulu, banyaknya wisatawan membawa pengaruh perbaikan ekonomi masyarakat setempat. Penginapan pertama didirikan sekitar tahun 1990 oleh warga setempat yang bernama H. Radiah. Setelah itu muncul Pondok Wire, Pondok Bambu, Pondok Giroh, pondok Sasak dan beberapa tempat penginapan lainnya.
Namun sejak isu terorisme mengemuka, semuanya berubah. Wisatawan yang mayoritas dari Eropa mulai melupakan keindahan dan keunikan Lendang Nangka. “Memang sekarang bisa kita katakan sepi wisatawan, rumah penginapan juga tinggal satu. Cuma miliknya H. Radiah saja yang masih ada, selain itu sudah tutup,” terang Kepala Desa Lendang Nangka, Drs.Lalu Muhammad Isnaeni.
Keamanan dan kebersihan desa merupakan salah satu factor berkurangnya pengunjung. Selain itu pengelolaan yang tidak maksimal terhadap obyek wisata dianggapnya turut menentukan kondisi Lendang Nangka saat ini. Ditambah lagi kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam memaksimalkan potensi wisata yang ada di desa.
Kepala desa yang cukup bersahaja itu merindukan kembali masa kejayaan wisata desanya. “Ke depan kita ingin majukan lagi wisata. Masyarakat disini punya tradisi unik yang menarik perhatian orag luar yaitu pembuatan minyak obat,” tuturnya.
Tradisi membuat obat dilakukan sekali dalam setahun. Tepatnya setiap malam Jum’at pertama bulan Rajab yang diikuti oleh ribuan masyarakat Desa Lendang Nangka. “Ini tradisi sudah seperempat abad berjalan, orang-orang dari Kalimantan dan Tarakan juga ikut buat obat. Saya yakin kalau ini dikembangkan bisa menarik minat wisatawan lebih banyak lagi. Kita juga ada pembagian air minum kehidupan namanya,” ucap Kades yang tengah mengenakan kain tersebut.
Untuk menemukan Rumah penginapan (home stay) di desa tersebut cukuplah sulit. Satu-satunya yang masih tersisa milik seorang pelaku wisata bernama H. Radiah. Menggeluti dunia parawisata sejak 1976 silam membuatnya sanggup bertahan sampai saat ini.
Home Stay miliknya nampak sepi, tidak satupun ada orang lain kala Radar Lombok datang menyambangi. Tempatnya asri dan udara segar dari tanaman membuat betah siapapun yang berada di tempat tersebut.
“Pemerintah itu tidak mau memajukan parawisata, ada juga Badan Promosi Parawisata Daerah (BPBD) tapi tidak bisa melihat peluang cara memajukan parawisata,” ucap H. Radiah secara tiba-tiba dengan lantang.
Dirinya mengaku bisa bertahan karena menggunakan majemen yang baik dan menerapkan strategi Cross Culture Understanding (CCU). Di tengah minimnya wisatawan haruslah promosi ke luar negeri menggunakan CCU. “Pemerintah sekarang gak tau cara majukan parawisata, kalau orang Swiss ya kita ajak dia ke pantai. Kita promosikan pantai yang ada disini kesana, karena di Swiss tidak ada pantai,” lanjutnya setengah menggurui.
Diakuinya, tahun 2015 ini belum banyak wisatawan yang berkunjung. Meskipun ada terkadang tidak menginap. “Wisatawan yang datang kesini itu mayoritas dari luar negeri. Ada dari Eropa, Cina, Thailan, dan juga Singapura. Harapan saya dinas parawisata melirik ini kalau mau memajukan parawisata,” tutup H. Radiah yang merupakan warga asli desa Lendang Nangka.

No comments:

Post a Comment