BERTAHAN: Satu-satunya Home Stay yang masih bertahan sampai saat ini di
desa Lendang Nangka, kecamatan Masbagik.
Pemandangan lalu-lalang para
wisatawan di sore hari tidak lagi kita temukan di desa Lendang Nangka. Banyak
home stay (rumah penginapan) telah tutup karena memang jarang pengunjung yang
datang. Home Stay H. Radiah satu-satunya
yang sampai kini masih sanggup bertahan.
AZWAR ZAMHURI – LOTIM
Melintasi sepanjang jalan desa
Lendang Nangka kecamatan Masbagik, tak jauh berbeda dengan situasi desa lainnya.
Alam yang indah, hasil kerajinan masyarakat dan tradisi unik yang ada seperti
ditenggelamkan oleh kemajuan zaman.
Masa keemasan parawisata desa
Lendang Nangka seolah terkikis di tengah kesibukan masyarakat setempat. Desa
yang dulunya sebagai tujuan wisata dalam negeri maupun mancanegara beberapa
tahun terakhir mulai terlupakan.
Beberapa obyek wisata seperti
Cagar Budaya (Gedeng – red) tidak populer lagi. Ketenaran mata air Tojang
kehilangan kesaktian menarik perhatian wisatawan. Kerajinan perak, lidi, mebel
dan pandai besi pun juga tidak bisa diandalkan.
Kondisi ini jauh berbeda dengan
dulu, banyaknya wisatawan membawa pengaruh perbaikan ekonomi masyarakat
setempat. Penginapan pertama didirikan sekitar tahun 1990 oleh warga setempat
yang bernama H. Radiah. Setelah itu muncul Pondok Wire, Pondok Bambu, Pondok
Giroh, pondok Sasak dan beberapa tempat penginapan lainnya.
Namun sejak isu terorisme
mengemuka, semuanya berubah. Wisatawan yang mayoritas dari Eropa mulai
melupakan keindahan dan keunikan Lendang Nangka. “Memang sekarang bisa kita
katakan sepi wisatawan, rumah penginapan juga tinggal satu. Cuma miliknya H.
Radiah saja yang masih ada, selain itu sudah tutup,” terang Kepala Desa Lendang
Nangka, Drs.Lalu Muhammad Isnaeni.
Keamanan dan
kebersihan desa merupakan salah satu factor berkurangnya pengunjung. Selain itu
pengelolaan yang tidak maksimal terhadap obyek wisata dianggapnya turut
menentukan kondisi Lendang Nangka saat ini. Ditambah lagi kurangnya perhatian
pemerintah daerah dalam memaksimalkan potensi wisata yang ada di desa.
Kepala desa yang
cukup bersahaja itu merindukan kembali masa kejayaan wisata desanya. “Ke depan
kita ingin majukan lagi wisata. Masyarakat disini punya tradisi unik yang
menarik perhatian orag luar yaitu pembuatan minyak obat,” tuturnya.
Tradisi membuat
obat dilakukan sekali dalam setahun. Tepatnya setiap malam Jum’at pertama bulan
Rajab yang diikuti oleh ribuan masyarakat Desa Lendang Nangka. “Ini tradisi
sudah seperempat abad berjalan, orang-orang dari Kalimantan dan Tarakan juga
ikut buat obat. Saya yakin kalau ini dikembangkan bisa menarik minat wisatawan
lebih banyak lagi. Kita juga ada pembagian air minum kehidupan namanya,” ucap
Kades yang tengah mengenakan kain tersebut.
Untuk menemukan
Rumah penginapan (home stay) di desa tersebut cukuplah sulit. Satu-satunya yang
masih tersisa milik seorang pelaku wisata bernama H. Radiah. Menggeluti dunia
parawisata sejak 1976 silam membuatnya sanggup bertahan sampai saat ini.
Home Stay miliknya
nampak sepi, tidak satupun ada orang lain kala Radar Lombok datang menyambangi.
Tempatnya asri dan udara segar dari tanaman membuat betah siapapun yang berada
di tempat tersebut.
“Pemerintah itu
tidak mau memajukan parawisata, ada juga Badan Promosi Parawisata Daerah (BPBD)
tapi tidak bisa melihat peluang cara memajukan parawisata,” ucap H. Radiah
secara tiba-tiba dengan lantang.
Dirinya mengaku bisa bertahan
karena menggunakan majemen yang baik dan menerapkan strategi Cross Culture
Understanding (CCU). Di tengah minimnya wisatawan haruslah promosi ke luar
negeri menggunakan CCU. “Pemerintah sekarang gak tau cara majukan parawisata,
kalau orang Swiss ya kita ajak dia ke pantai. Kita promosikan pantai yang ada
disini kesana, karena di Swiss tidak ada pantai,” lanjutnya setengah menggurui.
Diakuinya, tahun 2015 ini belum
banyak wisatawan yang berkunjung. Meskipun ada terkadang tidak menginap. “Wisatawan
yang datang kesini itu mayoritas dari luar negeri. Ada dari Eropa, Cina,
Thailan, dan juga Singapura. Harapan saya dinas parawisata melirik ini kalau
mau memajukan parawisata,” tutup H. Radiah yang merupakan warga asli desa
Lendang Nangka.
No comments:
Post a Comment