Wednesday, September 30, 2015

Hidup Mati Untuk BMX



Berlatih tanpa pelatih, itulah yang dialami Junaidi sejak kecil. Pahit getir olahraga Balap Sepeda BMX telah dilalui, persiapan PON Riau berlatih di kandang ayam karena tidak ada sirkuit tempat latihan. Tidak salah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB mempercayakannya sebagai pelatih yang dibebankan satu medali emas. 

AZWAR ZAMHURI – MATARAM

Pelatih yang terlihat masih muda tersebut tengah duduk santai di halaman Gelanggang Olahraga (GOR) 17 Desember Turide Mataram. Orangnya begitu bersahaja, saat itu ia mengenakan baju kaos berwarna merah dan celana pendek hitam abu-abu kala Radar Lombok menemuinya.
Junaidi merupakan pelaku sejarah pertama yang merintis cabang olahraga balap sepeda BMX hingga berhasil masuk Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda). Cabor yang tidak sepopuler sepakbola ataupun silat ini beberapa tahun terakhir membuktikan kehebatan anak-anak NTB setara dengan daerah lain.
“Saya menjadi pelatih awalnya karena hobby, sejak kelas 4 SD sudah bermain sepeda sendiri. Sering ikut kejuaraan dulu, bahkan sampai luar daerah. Senang-senang sudah, gak ada yang latih,” ucapnya membuka perjalanan hidup.
Pelatih asli warga NTB ini ternyata kiprahnya dalam dunia olahraga cukup berwarna. Bertahun-tahun menggeluti pencak silat sejak SMP, bahkan pernah juga merasakan atmosfir kejuaraan POPWIL silat. Tidak hanya itu, ia juga sangat jago mengolah si kulit bundar. Menjadi pemain bayaran di beberapa club sepakbola lokal sudah dilakoninya.
Namun semua ditinggalkan, daya tarik bersepeda membuat Junaidi jatuh cinta. “Yang paling membuat saya tertarik itu seni dalam sepeda, jiwa saya terasa nyaman dengan itu,” kenangnya.
Edet, panggilan akrabnya lahir 15 Mei 1983 lalu di Kediri, Lombok Barat. Banyak kejuaraan yang telah diikuti, mulai dari tingkat lokal sampai nasional. “Dulu kenapa saya sangat ingin berlaga di luar daerah karena kalau disini saya aja isinya. Makanya sekitar tahun 2000-an saya ke Bali ikut kejuaraan dan bisa juara dua,” ungkapnya sembari sesekali menghisap rokok.
Semua yang dilakukan Edet dengan modal nekad, tidak ada pihak yang benar-benar peduli dengan cabang olahraga BMX. Kecuali satu orang yang dianggapnya sebagai bapak angkat dan ia sangat berterimakasih untuk itu.
Atas banyak prestasi yang telah diraih, orang-orang sudah mulai mengenalnya. Club Sepeda Kanabis pun terbentuk, bertemulah ia dengan Bagus, Egi dan beberapa siswa yang kini menjadi anak asuhnya. Termasuk sang adik yang juga menjadi andalan NTB dalam balap sepeda karena tertarik melihat sang kakak.
Edet bukanlah atlet sepeda yang telah diajari oleh pelatih. Awal menjadi pelatih diakuinya tanpa program yang jelas. “Ngawur saya melatih dulu, gak tau bagaimana cara melatih dengan baik. Tapi syukur Alhamdulillah anak-anak bisa lolos PON dan meraih perunggu,” kenangnya.
Hidup Edet memang telah diwakafkan untuk sepeda, terakhir mengikuti kejuaraan di Sumedang tahun 2012 lalu saat anak asuhnya try out persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau. “Sebenarnya saya masih ingin bersepeda, umur bukan alas an. Tapi kalau saya lakukan itu lalu bagaimana nasib anak-anak ?? Siapa yang akan urus mereka,” ujarnya.
Atas pertimbangan itu Edet melepas diri dalam setiap kejuaraan, ia hanya focus melatih untuk membuktikan bahwa NTB juga bisa disegani lewat Sepeda BMX. “Di pikiran saya sekarang hanya focus memberikan yang terbaik untuk atlet, hobby sepeda yang ada dalam jiwa saya biar disalurkan lewat melatih saja,” jelas Edet.
Kini ia bersyukur melihat perkembangan olahraga sepeda BMX, perhatian dari KONI membuatnya lebih termotivasi memberikan yang terbaik. “Saya merasakan betul dulu kalau mau bertanding selalu disulitkan masalah uang. Untuk persiapan PON saja kami berlatih di kandang ayam, sirkuit gak ada dan yang biayai juga gak ada. Tapi karena prestasi anak-anak bagus, kami sekarang di akomodir,” ungkapnya.
Dua hal yang dikeluhkan sampai saat ini tidak adanya sirkuit dan pengurus Ikatan Sepeda Indonesia (ISI) yang seolah mati suri. Prestasi atlet BMX NTB sudah berbicara skala nasional, namun fasilitas latihan tidak pernah dibangun. Sementara semua pengurus ISI tidak pernah memperhatikan atlet.
“Harapan saya Cuma dua kedepan, ada sirkuit dan pengurus ISI lebih baik. Saya heran dengan pengurus ISI NTB, selama ini mereka diam saja tidak pernah menjenguk ataupun memperhatikan kami. Apalagi mau bantu secara materi, tapi syukur ada KONI yang mengakomodir,” bebernya.
Edet sangat kecewa atas oraginasi yang menaunginya. Disaat dirinya dan atlet berjuang persiapkan medali emas, mereka malah diam tanpa bicara. Nmun Edet tetap yakin akan mampu mempersembahkan medali emas dlam PON XIX 2016 mendatang. TAMAT

No comments:

Post a Comment