Tuesday, September 29, 2015

Mengenal Atlet-Atlet NTB di Ajang Pelatda (20)



Malang Melintang Karena Sering Main Layang-Layang

Atlet satu ini berbadan tegap, memiliki fisik yang kuat dan bakat alam yang melekat. Kalau berlari sangat kuat, dari Atletik cita-citanya pun sudah didapat.

AZWAR ZAMHURI – MATARAM

Saat Radar Lombok menyambangi asrama para Atlet Pelatda, ia terlihat gagah mengenakan kaos dan celana sport ukuran pendek. Matanya tajam dan aura yang dipancarkan membuatnya terlihat sebagai lelaki macho.
Terlahir dari pasangan suami istri bernama M. Taher dan Salma, Arif Rahman memiliki kakak kandung seorang Atlet lari yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kmpung halamannya, Bima. Kakaknya diangkat menjadi PNS atas prestasi yang diraih dalam cabang olahraga Atletik.
Namun masa kecil tidak bisa memahami hal seperti itu, ia lebih memilih mengisi hari-harinya dengan bermain layang-layng bersma teman. “Waktu saya sekolah di SD 75 Kota Bima, kerjaan saya itu dah mas. Main Layang-layang, kejar Layang. Nah itu kan kita lari terus kalau mengejar Layang yang putus, mungkin disana mulai tumbuh bakat lari saya,” cerita Arif.
Atlet yang hobby Voli ini mengaku tidak pernah mau berlatih seperti kakaknya, paksaan dari orangtu pun disikapi dengan keluyuran bermain Layang-layang. “Saya kan hobby voli sebenarnya, tapi bpk maksa saya di Atletik aja ikuti kakak,” ungkap Atlet yang lahir 24 April 1993 ini.  
Namun sebelum melanjutkan pendidikannya di SMP 6 Kota Bima, Arif disuruh mengikuti kejuaraan Lari yang diadakan di Bima. “Saya kan gak pernah latihan, gak mungkinlah saya bisa menang. Itu dipikiran saya waktu itu, tapi ajaib memang. Masa saya bisa juar satu ? Padahal gak pernah latihan selama ini, gak paham tekhnik lari yng benar,” ceritanya.
Setelah itu ia mulai berlatih, tapi Arif merasa bakat alamlah yang bisa membuatnya juara. Setiap hari berlari sekuat tenaga mengejar Layang-layang ternyata membuahkan hasil yang tak diduga.
Atas prestasinya ia kemudian ditarik oleh PPLP NTB, Arif pun lansung pindah sekolah ke SMP 13 Mataram. Setelah itu melanjutkan pendidikannya ke SMA 2 Mataram, disinilah Arif memecahkan rekor 400 meter. Ia mampu mempertahankan rekor kecepatan tersebut selama 6 tahun.
Atas kehebatannya tak lama Arif dipanggil mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) pada tahun 2008. Sekolahnya pun terpaksa harus pindah ke SMA Ragunan Jakarta. “Saya pindah-pindah sekolah, malang melintang kesana-kemari ya karena lari mas. Jujur Ya, saya merasa karena sering main Layang-layang waktu kecil aja sehingga bakat alam itu tumbuh dan baru kita kelola dengan baik,” jelasnya.
Keberadaannya di Pelatda tahun ini bukanlah kali pertama, PON Riau tahun 2012 lalu ia juga dipercaya mewakili NTB dan berhasil meraih juara dua. Kini Arif ingin membeli rumah di Kota Mataram, ia harus bisa merealisasikannya dengan keringat sendiri. “Kalau sudah ada rumah, baru kita mikir kawin,” ucapnya sembari tertawa. Bersambung

No comments:

Post a Comment