Malang Melintang Karena Sering Main Layang-Layang
Atlet satu ini berbadan tegap,
memiliki fisik yang kuat dan bakat alam yang melekat. Kalau berlari sangat
kuat, dari Atletik cita-citanya pun sudah didapat.
AZWAR ZAMHURI – MATARAM
Saat Radar Lombok menyambangi
asrama para Atlet Pelatda, ia terlihat gagah mengenakan kaos dan celana sport
ukuran pendek. Matanya tajam dan aura yang dipancarkan membuatnya terlihat sebagai
lelaki macho.
Terlahir dari pasangan suami istri
bernama M. Taher dan Salma, Arif Rahman memiliki kakak kandung seorang Atlet
lari yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kmpung halamannya, Bima.
Kakaknya diangkat menjadi PNS atas prestasi yang diraih dalam cabang olahraga
Atletik.
Namun masa kecil tidak bisa
memahami hal seperti itu, ia lebih memilih mengisi hari-harinya dengan bermain
layang-layng bersma teman. “Waktu saya sekolah di SD 75 Kota Bima, kerjaan saya
itu dah mas. Main Layang-layang, kejar Layang. Nah itu kan kita lari terus
kalau mengejar Layang yang putus, mungkin disana mulai tumbuh bakat lari saya,”
cerita Arif.
Atlet yang hobby Voli ini mengaku
tidak pernah mau berlatih seperti kakaknya, paksaan dari orangtu pun disikapi
dengan keluyuran bermain Layang-layang. “Saya kan hobby voli sebenarnya, tapi
bpk maksa saya di Atletik aja ikuti kakak,” ungkap Atlet yang lahir 24 April
1993 ini.
Namun sebelum melanjutkan
pendidikannya di SMP 6 Kota Bima, Arif disuruh mengikuti kejuaraan Lari yang
diadakan di Bima. “Saya kan gak pernah latihan, gak mungkinlah saya bisa
menang. Itu dipikiran saya waktu itu, tapi ajaib memang. Masa saya bisa juar
satu ? Padahal gak pernah latihan selama ini, gak paham tekhnik lari yng
benar,” ceritanya.
Setelah itu ia mulai berlatih, tapi
Arif merasa bakat alamlah yang bisa membuatnya juara. Setiap hari berlari
sekuat tenaga mengejar Layang-layang ternyata membuahkan hasil yang tak diduga.
Atas prestasinya ia kemudian
ditarik oleh PPLP NTB, Arif pun lansung pindah sekolah ke SMP 13 Mataram.
Setelah itu melanjutkan pendidikannya ke SMA 2 Mataram, disinilah Arif
memecahkan rekor 400 meter. Ia mampu mempertahankan rekor kecepatan tersebut
selama 6 tahun.
Atas kehebatannya tak lama Arif
dipanggil mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) pada tahun 2008. Sekolahnya
pun terpaksa harus pindah ke SMA Ragunan Jakarta. “Saya pindah-pindah sekolah,
malang melintang kesana-kemari ya karena lari mas. Jujur Ya, saya merasa karena
sering main Layang-layang waktu kecil aja sehingga bakat alam itu tumbuh dan
baru kita kelola dengan baik,” jelasnya.
Keberadaannya di Pelatda tahun ini
bukanlah kali pertama, PON Riau tahun 2012 lalu ia juga dipercaya mewakili NTB
dan berhasil meraih juara dua. Kini Arif ingin membeli rumah di Kota Mataram,
ia harus bisa merealisasikannya dengan keringat sendiri. “Kalau sudah ada
rumah, baru kita mikir kawin,” ucapnya sembari tertawa. Bersambung
No comments:
Post a Comment