Hanya Mengabdi Untuk Atletik
Pernah menjadi atlet membuat
Subagio sangat memahami seluk-beluk olahraga Atletik. Pilihan hidup menekuni
olahraga membawanya menjadi guru olahraga sampai pelatih Atletik Indonesia.
AZWAR ZAMHURI – MATARAM
Pria separuh baya itu
pembawaannya tenang dan kalem. Bibirnya murah senyum namun tidak banyak bicara.
Seperti halnya kala Radar Lombok menghampiri, setiap pertanyaan yang diajukan
dijawab seperlunya dengan nada kemantapan.
Bagi para pencinta olahraga NTB,
nama Drs. Subagio sudah tidak asing lagi. Sejak 2004 lalu kiprahnya mencetak
atlet berprestasi telah terbukti. Lihat saja saat ini lima anak asuhnya tengah
berada di Jakarta mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk
mewakili bangsa Indonesia.
Iswandi, Si Manusia Tercepat di
Indonesia merupakan salah satu bukti hebatnya ramuan pelatih tersebut. Sangat
wajar sehingga ia dipercaya menjadi Pelatih Atletik di Pelatda Sentralisasi
Tambora 2015.
Meskipun terlahir
tidak sebagai orang Gumi Gora, motivasinya memajukan prestasi Atletik NTB tidak
perlu diragukan lagi. “Saya sejak kecil memang hobby olahraga, sempat juga dulu
saya ikut POPSI (Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia) tingkat Kabupaten.
Yang paling utama bagi saya mengabdi dengan tulus di Atletik,” ucap Subagio.
Pelatih
kelahiran Purworejo, Jawa Tengah tersebut mulai menyelami Lombok saat
menunaikan Strata Satu (S1) di IKIP Mataram. Sebelumnya ia kuliah D3 di IKIP
Karang Malang, Jogja. “Saya kuliah D3 dulu sebelum S1 di IKIP jurusan FPOK,”
ceritanya.
Setelah
bergelar Sarjana Olahraga, Subagio lansung mengabdi di SMPN 3 Mataram. Empat
tahun disana, sekitar 1995 lalu ia mengikuti Pelatihan khusus menjadi Pelatih
Atletik Level 1. Awal 2004 Subagio dipercaya mencetak atlet di Pusat Pendidikan
dan Latihan Pelajar (PPLP). Disinilah awal prestasi cemerlang NTB dalam Cabor
Atletik.
Setahun
aktif di PPLP, Provinsi NTB menjadi juara umum Cabor Atletik dalam Pekan
Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2015. Dua tahun setelah prestasi
membanggakan itu, NTB juga berhasil mengumpulkan 8 medali emas di ajang yang
sama tahun 2007.
Atas
prestasi yang luar biasa, Subagio ditarik menjadi Pelatih di Pelatnas. Karier
terakhirnya disana saat membantu Indonesia menghadapi Sea Games 2011. “Saya
kasian ma keluarga yang disini, makanya saya berusaha agar bisa pulang dari
Jakarta dan menetap disini. Ya Alhamdulillah waktu itu dapat SK bertugas di
Dikpora Provinsi,” cerita pria yang hobby main tenis tersebut.
Subagio
memang orang yang lahir 30 Desember 1968 di Jawa Tengah sana. Namun rasa cinta
pada NTB dari bapak tiga anak tersebut sudah terbukti. Pengabdiannya tidak
menuntut balasan setimpal, bagi Subagio hidup untuk atletik adalah jiwa dan
cintanya.
“Jujur ya,
kalau bicara perhatian pemerintah saya terima saja lah, sampai sekarang saja
saya jadi staf biasa di Dikpora. Tapi itu jangan menjadi alasan kita tidak mau
memajukan prestasi, intinya mengabdi dengan tlus dan biarkanlah Tuhan yang akan
membalasnya,” ucap suami dari Puji Indah Sulistriani tersebut.
No comments:
Post a Comment