Tuesday, September 29, 2015

Mengenal Pelatih Pelatda Sentralisasi Tambora 2015 (1)



Hanya Mengabdi Untuk Atletik
Pernah menjadi atlet membuat Subagio sangat memahami seluk-beluk olahraga Atletik. Pilihan hidup menekuni olahraga membawanya menjadi guru olahraga sampai pelatih Atletik Indonesia.

AZWAR ZAMHURI – MATARAM

Pria separuh baya itu pembawaannya tenang dan kalem. Bibirnya murah senyum namun tidak banyak bicara. Seperti halnya kala Radar Lombok menghampiri, setiap pertanyaan yang diajukan dijawab seperlunya dengan nada kemantapan.
Bagi para pencinta olahraga NTB, nama Drs. Subagio sudah tidak asing lagi. Sejak 2004 lalu kiprahnya mencetak atlet berprestasi telah terbukti. Lihat saja saat ini lima anak asuhnya tengah berada di Jakarta mengikuti Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk mewakili bangsa Indonesia.
Iswandi, Si Manusia Tercepat di Indonesia merupakan salah satu bukti hebatnya ramuan pelatih tersebut. Sangat wajar sehingga ia dipercaya menjadi Pelatih Atletik di Pelatda Sentralisasi Tambora 2015.
Meskipun terlahir tidak sebagai orang Gumi Gora, motivasinya memajukan prestasi Atletik NTB tidak perlu diragukan lagi. “Saya sejak kecil memang hobby olahraga, sempat juga dulu saya ikut POPSI (Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia) tingkat Kabupaten. Yang paling utama bagi saya mengabdi dengan tulus di Atletik,” ucap Subagio.
Pelatih kelahiran Purworejo, Jawa Tengah tersebut mulai menyelami Lombok saat menunaikan Strata Satu (S1) di IKIP Mataram. Sebelumnya ia kuliah D3 di IKIP Karang Malang, Jogja. “Saya kuliah D3 dulu sebelum S1 di IKIP jurusan FPOK,” ceritanya.
Setelah bergelar Sarjana Olahraga, Subagio lansung mengabdi di SMPN 3 Mataram. Empat tahun disana, sekitar 1995 lalu ia mengikuti Pelatihan khusus menjadi Pelatih Atletik Level 1. Awal 2004 Subagio dipercaya mencetak atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Disinilah awal prestasi cemerlang NTB dalam Cabor Atletik.
Setahun aktif di PPLP, Provinsi NTB menjadi juara umum Cabor Atletik dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2015. Dua tahun setelah prestasi membanggakan itu, NTB juga berhasil mengumpulkan 8 medali emas di ajang yang sama tahun 2007.
Atas prestasi yang luar biasa, Subagio ditarik menjadi Pelatih di Pelatnas. Karier terakhirnya disana saat membantu Indonesia menghadapi Sea Games 2011. “Saya kasian ma keluarga yang disini, makanya saya berusaha agar bisa pulang dari Jakarta dan menetap disini. Ya Alhamdulillah waktu itu dapat SK bertugas di Dikpora Provinsi,” cerita pria yang hobby main tenis tersebut.
Subagio memang orang yang lahir 30 Desember 1968 di Jawa Tengah sana. Namun rasa cinta pada NTB dari bapak tiga anak tersebut sudah terbukti. Pengabdiannya tidak menuntut balasan setimpal, bagi Subagio hidup untuk atletik adalah jiwa dan cintanya.
“Jujur ya, kalau bicara perhatian pemerintah saya terima saja lah, sampai sekarang saja saya jadi staf biasa di Dikpora. Tapi itu jangan menjadi alasan kita tidak mau memajukan prestasi, intinya mengabdi dengan tlus dan biarkanlah Tuhan yang akan membalasnya,” ucap suami dari Puji Indah Sulistriani tersebut.

No comments:

Post a Comment