Wednesday, September 30, 2015

Mengenal Pelatih Pelatda Sentralisasi Tambora 2015 (2)



Merangkak Menangis Bangun Olahraga Menembak

Pernah keliling setiap sekolah tawarkan diri menjadi pelatih, namun tidak ada yang mau menerima. Cabang olahraga menembak dipandang sebelah mata, tapi kini NTB menjadi provinsi yang sangat diperhitungkan. Semua itu atas berasal dari seorang Andik Budi Hariono.

AZWAR ZAMHURI – MATARAM

Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) Sentralisasi Tambora 2015 beberapa waktu lalu sempat dihebohkan oleh pemberitaan tentang cabang olahraga (Cabor) menembak yang tidak bisa berlatih menembak. Andik Budi Hariono, sang pelatih Cabor tersebutlah berani buka suara atas kekurangan Pelatda.
Pelatih yang nyentrik tersebut tengah rebahkan diri kala Radar Lombok menyambanginya di asrama GOR 17 Desember Turide Mataram. Jadwal melatih setiap hari membuatnya letih, namun semangat untuk sebuah pembuktian membuatnya tetap bugar dan konsisten.
Beberapa tahun lalu, masyarakat NTB kurang akrab dengan olahraga menembak. Sebuah Cabor yang terkesan eksklusif dan hanya untuk golongan menengah ke atas. Namun semua itu berubah sejak Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 Riau, Indonesia disontakkan dengan keterlibatan atlet asal Gumi Gora. Untuk pertama kalinya NTB mampu lolos PON dan lansung meraih prestasi gemilang menjadi empat besar terbaik. Bahkan hebatnya, PON Remaja beberapa waktu lalu atlet NTB memposisikan diri peringkat dua nasional.
Pelatih kelahiran Sidoarjo, 21 Maret 1973 tersebut diakui ataupun tidak telah menggeser mainsite masyarakat umum selama ini. Jika menembak dulu dianggap olahraga untuk orang kaya, tapi anak-anak asuhnya yang kini menjadi terbaik tingkat nasional terbukti mayoritas dari kalangan menengah ke bawah.
Andik, panggilan akrab dari suami Yeni Kusuma Wardani tersebut memulai semuanya dari nol. Saat di Sidoarjo Andik merupakan atlet Pencak Silat dari tahun 1986 sampai 1990. Alasan larangan dari orangtua semua itu ditinggalkan sampai akhirnya mengenal dunia menembak.
Tahun 1992 Andy meninggalkan kampung halaman untuk menemui keluarga yang berada di Mataram, NTB. Ia pun kemudian melanjutkan pendidikannya ke Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) mengambil jurusan Tekhnik Sipil hingga lulus. Selama kuliah Andik mematuhi perinth orangtua agar tidak menggeluti silat, olahraga pilihannya terpaksa ditinggalkan sepenuhnya.
Mengenal senjata dan dunia menembak diakuinya baru sejak tahun 2004 setelah bertemu dengan Glen asal Bali, seorang kepala pelatih menembak nasional. Dua tahun digodok khusus oleh Glen, tahun 2006 memberanikan diri menjadi pelatih Kota Mataram dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Atas tangan dinginnya, Mataram berhasil menjadi juara umum saat itu.
Namun olahraga menembak tidak sepopuler saat ini, Andik butuh makan dan uang untuk membiayai anak dan istrinya. Akhirnya ia meninggalkan dunia menembak dan bekerja di konstruksi sesui keahlian yang didapat sewaktu kuliah. Tahun 2010 dipanggil untuk persiapan Porprov lagi, kali ini Andik gagal membawa Mataram sebagai juara satu.
2011 ia beranikan diri lebih serius sebagai pelatih hingga mengikuti pelatihan. Merasa tidak bisa focus menjadi pelatih karena pekerjaan, akhirnya Andik melepas pekerjaannya. Sepenuh hidupnya setelah itu diwakafkan untuk membangun dan memajukan prestasi olahraga menembak.
Lalu Andik bingung harus menerapkan ilmunya dimana, minat masyarakat sangat rendah dan pelatih menembak jarang dibutuhkan. Saat-saat inilah Andik merangkak mencari orang yang mau dilatih dan keliling masuk semua sekolah tawarkan diri sebagai pelatih menembak. Namun tidak ada yang berminat, bersyukur SMP 13 berkenan mencoba apa yang diobralkannya.
“Saya bahkan mencari orang yang mau diajar dulu, kemana-mana membawa senjata seperti orang gila. Setiap bertemu pelajar saya tawarkan belajar menembak, tapi jarang yang mau,” ceritanya. Tepat 11 November di tahun yang sama, Andik bertemu dengan Made Wisuda. Dibentuklah sebuah club yang sampai kini dikenal dengan nama Perbakin Rinjani.
Awal melatih di sekolah, Andik sama sekli tidak digaji. Ia bahkan rela menggunakan uang pribadi membiayai semuanya. Sampai tibalah waktu Pra-PON Riau, Andik kehabisan uang untuk biayai pelatihan. Motor terpaksa digadai untuk beli peluru, uangnya tidak cukup fasilitasi anak didik seperti pakaian menembak. Semua pihak tidaka da yang perduli termasuk KONI, akhirnya baju satu pakaian yang hanya ada satu digunakan oleh anak didiknya secara bergantian saat tampil di Pra-PON. Tuhan menunjukkan kuasanya, untuk pertama kali dalam sejarah menembak Indonesia NTB berhasil lolos PON.
Pemerintah maupun KONI masih tutup mata, saat PON di Riau atlet-atlet menembak NTB kurang diperhatikan. Baju paling kusut dan kumal, itulah yang nampak dari atlet menembak NTB. Namun Tuhan lagi-lagi menunjukkan keadilannya, NTB mampu sebagai peringkat 4 dan 6 dalam event terbesar empat tahunan tersebut.
“Padahal kami sudah buktikan prestasi yang nyata, tapi belum saja dilirik. Tapi setelah PON mulai ada perhatian, pak Andy dan pak Kasdiono sumbangkan baju menembak pada kami,” tutur pelatih yang telah memiliki dua anak tersebut.
Sejak itu, Andik dan anak didiknya yang berasal dari SMP 13 Mataram kini mendapatkan imbalan yang setimpal. Generasi pertama dari SMP tersebut tetap komitmen sampai saat ini mereka duduk di bangku SMA. Prestasi membanggakan setiap tahun makin ditunjukkan, bahkan anak-anak NTB paling disegani oleh provinsi lainnya dalam setiap kejuaraan.
Perkembangan olahraga menembak semakin menjamur seiring prestasi membanggakan yang diraih NTB, kini banyak sekolah-sekolah yang menjadikan sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Perhatian dari pemerintah dan KONI pun nampak dengan dimasukkannya menembak dalam Pelatda.
“Saya sangat berterimakasih kepada mereka-mereka yang membantu selama ini, termasuk ketua Pengcab Perbakin Mataram, orangtua atlet-atlet ini dan KONI juga yang sudah memperhatikan kami,” kata Andik.
Atas kecintaannya pada dunia menembak, anak-anaknya pun tumbuh besar sebagai atlet menembak. Bima Putra Eka Budi Kusuma Wardana (18) sebagai anak pertama telah mampu mengumpulkan dua emas. Dan anaknya yang kedua Citra Budi Andini (16) berhasil membuktikan diri sebagai terbaik kelima dalam PON Remaja lalu. Sebuah keluarga menembak, menarik memang…. Bersambung

No comments:

Post a Comment