Merangkak Menangis Bangun Olahraga Menembak
Pernah keliling setiap sekolah
tawarkan diri menjadi pelatih, namun tidak ada yang mau menerima. Cabang
olahraga menembak dipandang sebelah mata, tapi kini NTB menjadi provinsi yang
sangat diperhitungkan. Semua itu atas berasal dari seorang Andik Budi Hariono.
AZWAR ZAMHURI – MATARAM
Pemusatan Latihan Daerah
(Pelatda) Sentralisasi Tambora 2015 beberapa waktu lalu sempat dihebohkan oleh
pemberitaan tentang cabang olahraga (Cabor) menembak yang tidak bisa berlatih
menembak. Andik Budi Hariono, sang pelatih Cabor tersebutlah berani buka suara
atas kekurangan Pelatda.
Pelatih yang nyentrik tersebut
tengah rebahkan diri kala Radar Lombok menyambanginya di asrama GOR 17 Desember
Turide Mataram. Jadwal melatih setiap hari membuatnya letih, namun semangat
untuk sebuah pembuktian membuatnya tetap bugar dan konsisten.
Beberapa tahun lalu, masyarakat
NTB kurang akrab dengan olahraga menembak. Sebuah Cabor yang terkesan eksklusif
dan hanya untuk golongan menengah ke atas. Namun semua itu berubah sejak Pekan
Olahraga Nasional (PON) 2012 Riau, Indonesia disontakkan dengan keterlibatan atlet
asal Gumi Gora. Untuk pertama kalinya NTB mampu lolos PON dan lansung meraih
prestasi gemilang menjadi empat besar terbaik. Bahkan hebatnya, PON Remaja
beberapa waktu lalu atlet NTB memposisikan diri peringkat dua nasional.
Pelatih kelahiran Sidoarjo, 21
Maret 1973 tersebut diakui ataupun tidak telah menggeser mainsite masyarakat
umum selama ini. Jika menembak dulu dianggap olahraga untuk orang kaya, tapi
anak-anak asuhnya yang kini menjadi terbaik tingkat nasional terbukti mayoritas
dari kalangan menengah ke bawah.
Andik, panggilan akrab dari suami
Yeni Kusuma Wardani tersebut memulai semuanya dari nol. Saat di Sidoarjo Andik
merupakan atlet Pencak Silat dari tahun 1986 sampai 1990. Alasan larangan dari orangtua
semua itu ditinggalkan sampai akhirnya mengenal dunia menembak.
Tahun 1992 Andy meninggalkan
kampung halaman untuk menemui keluarga yang berada di Mataram, NTB. Ia pun
kemudian melanjutkan pendidikannya ke Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT)
mengambil jurusan Tekhnik Sipil hingga lulus. Selama kuliah Andik mematuhi
perinth orangtua agar tidak menggeluti silat, olahraga pilihannya terpaksa
ditinggalkan sepenuhnya.
Mengenal senjata dan dunia
menembak diakuinya baru sejak tahun 2004 setelah bertemu dengan Glen asal Bali,
seorang kepala pelatih menembak nasional. Dua tahun digodok khusus oleh Glen,
tahun 2006 memberanikan diri menjadi pelatih Kota Mataram dalam Pekan Olahraga
Provinsi (Porprov). Atas tangan dinginnya, Mataram berhasil menjadi juara umum
saat itu.
Namun olahraga menembak tidak
sepopuler saat ini, Andik butuh makan dan uang untuk membiayai anak dan
istrinya. Akhirnya ia meninggalkan dunia menembak dan bekerja di konstruksi
sesui keahlian yang didapat sewaktu kuliah. Tahun 2010 dipanggil untuk
persiapan Porprov lagi, kali ini Andik gagal membawa Mataram sebagai juara
satu.
2011 ia beranikan diri lebih
serius sebagai pelatih hingga mengikuti pelatihan. Merasa tidak bisa focus
menjadi pelatih karena pekerjaan, akhirnya Andik melepas pekerjaannya. Sepenuh
hidupnya setelah itu diwakafkan untuk membangun dan memajukan prestasi olahraga
menembak.
Lalu Andik bingung harus
menerapkan ilmunya dimana, minat masyarakat sangat rendah dan pelatih menembak
jarang dibutuhkan. Saat-saat inilah Andik merangkak mencari orang yang mau
dilatih dan keliling masuk semua sekolah tawarkan diri sebagai pelatih
menembak. Namun tidak ada yang berminat, bersyukur SMP 13 berkenan mencoba apa
yang diobralkannya.
“Saya bahkan mencari orang yang
mau diajar dulu, kemana-mana membawa senjata seperti orang gila. Setiap bertemu
pelajar saya tawarkan belajar menembak, tapi jarang yang mau,” ceritanya. Tepat
11 November di tahun yang sama, Andik bertemu dengan Made Wisuda. Dibentuklah
sebuah club yang sampai kini dikenal dengan nama Perbakin Rinjani.
Awal melatih di sekolah, Andik
sama sekli tidak digaji. Ia bahkan rela menggunakan uang pribadi membiayai
semuanya. Sampai tibalah waktu Pra-PON Riau, Andik kehabisan uang untuk biayai
pelatihan. Motor terpaksa digadai untuk beli peluru, uangnya tidak cukup
fasilitasi anak didik seperti pakaian menembak. Semua pihak tidaka da yang
perduli termasuk KONI, akhirnya baju satu pakaian yang hanya ada satu digunakan
oleh anak didiknya secara bergantian saat tampil di Pra-PON. Tuhan menunjukkan
kuasanya, untuk pertama kali dalam sejarah menembak Indonesia NTB berhasil
lolos PON.
Pemerintah maupun KONI masih
tutup mata, saat PON di Riau atlet-atlet menembak NTB kurang diperhatikan. Baju
paling kusut dan kumal, itulah yang nampak dari atlet menembak NTB. Namun Tuhan
lagi-lagi menunjukkan keadilannya, NTB mampu sebagai peringkat 4 dan 6 dalam
event terbesar empat tahunan tersebut.
“Padahal kami sudah buktikan
prestasi yang nyata, tapi belum saja dilirik. Tapi setelah PON mulai ada
perhatian, pak Andy dan pak Kasdiono sumbangkan baju menembak pada kami,” tutur
pelatih yang telah memiliki dua anak tersebut.
Sejak itu, Andik dan anak
didiknya yang berasal dari SMP 13 Mataram kini mendapatkan imbalan yang
setimpal. Generasi pertama dari SMP tersebut tetap komitmen sampai saat ini
mereka duduk di bangku SMA. Prestasi membanggakan setiap tahun makin
ditunjukkan, bahkan anak-anak NTB paling disegani oleh provinsi lainnya dalam
setiap kejuaraan.
Perkembangan olahraga menembak
semakin menjamur seiring prestasi membanggakan yang diraih NTB, kini banyak
sekolah-sekolah yang menjadikan sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Perhatian
dari pemerintah dan KONI pun nampak dengan dimasukkannya menembak dalam
Pelatda.
“Saya sangat berterimakasih
kepada mereka-mereka yang membantu selama ini, termasuk ketua Pengcab Perbakin
Mataram, orangtua atlet-atlet ini dan KONI juga yang sudah memperhatikan kami,”
kata Andik.
Atas kecintaannya pada dunia
menembak, anak-anaknya pun tumbuh besar sebagai atlet menembak. Bima Putra Eka
Budi Kusuma Wardana (18) sebagai anak pertama telah mampu mengumpulkan dua emas.
Dan anaknya yang kedua Citra Budi Andini (16) berhasil membuktikan diri sebagai
terbaik kelima dalam PON Remaja lalu. Sebuah keluarga menembak, menarik
memang…. Bersambung
No comments:
Post a Comment